Cara Mandi Wajib Yang Benar Menurut Agama

Cara Mandi Wajib Yang Benar – Mandi dalam bahasa arab adalah الْغُسْل (ghusl), makna secara bahasa adalah “mengalirkan”. Mandi wajib atau mandi junub menurut istilah adalah mandi yang harus dilakukan ketika seseorang dalam keadaan junub.

Sedangkan secara istilah syar’i mandi wajib adalah meratakan air ke seluruh tubuh yang diawali dengan niat membersihkan diri dari hadats besar.

Hal-Hal yang Menyebabkan Mandi Wajib

Perlu Anda ketahui bahwa mandi wajib itu tidak hanya disebabkan oleh hubungan suami istri dan haid serta nifas, namun ada beberapa sebab lain yang mewajibkan seseorang untuk mandi wajib. Seorang muslim wajib melakukan mandi wajib jika mengalami kondisi sebagai berikut:

1. Setelah berhenti darah haid bagi wanita

Dalil mengenai hal ini adalah hadits ‘Aisyah RA, Nabi SAW. berkata pada Fathimah binti Abi Hubaisy,

Apabila kamu datang haidh hendaklah kamu meninggalkan shalat. Apabila darah haidh telah berhenti, hendaklah kamu mandi dan mendirikan shalat.” (HR. Bukhari no. 320 dan Muslim no. 333).

2. Setelah berhenti darah nifas bagi wanita

Untuk nifas hukumnya sama dengan darah haid, yaitu darah kotor yang keluar dari kemaluan wanita. Perbedaannya, haid terjadi setiap bulan pada wanita yang belum memasuki usia monapous. Sedangkan nifas terjadi setelah seorang wanita baru melahirkan.

3. Keluarnya mani dengan syahwat

Jika keluar mani bagi pria yang disertai dengan syahwat maka ia wajib mandi. Namun, jika keluar mani disebabkan hal lain misalkan karena cuaca yang sangat dingin maka kondisi seperti ini tidak diwajibkan mandi wajib. Perlu diketahui bahwa mani berbeda dengan wadi dan madzi.

Berikut penjelasannya:

Mani: cairan yang keluar dari alat kelamin pria pada saat orgasme, baik karena berhubungan badan atau karena mimpi basah. Mani keluar dengan cara memancar/muncrat yang disertai syahwat yang memuncak. Setelah mani keluar maka badan akan terasa lemas. Mani berwarna putih dan memiliki bau khas seperti telur kering. Mani menurut mayoritas ulama tidak najis, tapi jika mani keluar maka harus mandi wajib.

Madzi: cairan yang keluar dari alat kelamin pria karena gejolak syahwat, namun belum memuncak. Keluarnya madzi tidak sampai menyebabkan lemas. Madzi berwarna bening, encer, lengket namun tidak berbau. Cairan madzi menurut ulama termasuk najis ringan, apabila keluar madzi maka tidak membatalkan puasa dan cukup berwudhu untuk mensucikannya, dan membasuh kain yang terkena madzi.

Wadi: cairan yang keluar dari alat kelamin pria karena kelelahan atau karena mengangkat beban yang terlalu berat, atau kadang keluarnya pada saat kencing. Wadi berwarna putih, agak kental dan keruh. Wadi juga termasuk najis ringan sehingga harus disucikan dengan wudhu tapi tidak harus mandi. Bekas yang kena wdi dibasuh dengan air untuk menghilangkan sifat najisnya.

Kesimpulannya: jika yang keluar adalah air mani maka wajib mandi. Tapi jika yang keluar madzi atau wadi maka tidak wajib mandi.

4. Setelah bertemunya dua kemaluan meskipun tidak keluar mani (berhubungan badan suami istri)

Hal ini berdasarkan hadist  dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda,

Jika seseorang duduk di antara empat anggota badan istrinya (maksudnya: menyetubuhi istrinya), lalu dia menyetubuhinya, maka wajib baginya mandi.” (HR. Bukhari no. 291 dan Muslim no. 348)

Meskipun tidak sampai keluar  mani maka tetap harus mandi wajib. Hadist dari isyah RA, ia berkata,

Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW tentang seorang yang menyetubuhi istrinya namun tidak sampai keluar air mani. Apakah keduanya wajib mandi? Aisyah ketika itu sedang duduk di samping Rasulullah SAW, maka beliau bersabda, “Aku sendiri pernah bersetubuh dengan wanita ini (yang dimaksud adalah Aisyah) namun tidak keluar mani, kemudian kami pun mandi.” (HR. Muslim no. 350)

5. Ketika orang kafir baru masuk Islam (mu’alaf)

Dalil yang menjadi landasan dalam hal ini adalah hadist yang diriwayatkan oleh Qois bin Ashim RA:

Bahwa beliau masuk Islam, lantas Nabi SAW memerintahkannya untuk mandi dengan air dan daun sidr (daun bidara).” (HR. An Nasai no. 188, At Tirmidzi no. 605, Ahmad 5/61. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

6. Ketika seseorang Muslim meninggal dunia

Ketika seorang muslim meninggal dunia maka dia wajib dimandikan. Sedangkan hukum memandikan mayat adalah fardhu kifayah. Artinya cukup beberapa orang yang melakukannya maka hal itu sudah menggugurkan kewajiban yang lain.

Dalilnya adalah perintah Nabi SAW kepada Ummu ‘Athiyah RA dan kepada para wanita yang memandikan jenazah anak beliau,

Mandikanlah dengan menyiramkan air yang dicampur dengan daun bidara tiga kali, lima kali atau lebih dari itu jika kalian anggap perlu dan jadikanlah yang terakhirnya dicampur dengan kapur barus (wewangian).” (HR. Bukhari no. 1253 dan Muslim no. 939).

Setiap muslim yang meninggal maka harus dimandikan, baik laki-laki maupun perempuan, muda maupun tua. Muslim yang tidak wajib dimandikan hanya orang yang mati syahid.

7. Bayi yang meninggal tetapi sudah memiliki ruh

Bayi yang meninggal, baik yang meninggal ketika masih dalam kandungan maupun telah lahir ke dunia, jika meninggal maka wajib dimandikan. Menurut sebuah hadist, ruh ditiupkan ke bayi pada usia kehamilan di atas 120 hari atau cabang bayi berumur 4 bulan.

Baca juga: Cara Membuat Anak Dengan Cepat

Tata Cara Mandi Wajib / Mandi Besar / Mandi Junub

Berikut ini tata cara mandi wajib langkah demi langkah:

1. Dimulai dengan niat. Niat merupakan syarat wajib yang harus dilakukan sebelum mandi wajib. Inilah yang akan membedakan antara mandi wajib dan mandi biasa. Niat mandi wajib cukup di dalam hati, tidak perlu dilafalkan. Jika dilafakan dengan mulut lebih bagus lagi.

2. Membasuh Tangan. Disunnahkan memulai mandi wajib dengan membasuh kedua tangan, dilakukan 3 kali agar tangan benar-benar bersih.

3. Membersihkan bagian tubuh yang kotor dengan tangan kiri. Organ tubuh yang kotor seperti kemaluan, ketiak, dubur, kemaluan dan lain-lain.

4. Berwudhu sebagaimana untuk shalat, dan menurut jumhur disunnahkan untuk mengakhirkan mencuci kedua kaki. Berwudhu ini hukumnya sunat, jika mau silahkan dilakukan, jika tidak maka bisa ditinggalkan.

5. Mulai mengguyur kepala. Mengguyur kepala tiga kali sampai seluruh permukaan kulit dan rambut basah oleh air.

6. Menyela-nyela rambut. Menyela-nyela rambut kepala menyilang dengan jari-jari tangan agar air sampai ke kulit kepala.

7. Mengguyur seluruh bagian tubuh. Mengguyur seluruh bagian tubuh disunatkan dimulai dari kanan kemudian ke kiri.

8. Menggunakan Sabun dan Shampo. Agar lebih bersih maka sebaiknya gunakan sabun dan shampoo. Mulailah dari anggota tubuh yang kanan, lalu kemudian bagian yang kiri.

Tata cara mandi wajib ini dilakukan apabila kondisi Anda dalam keadaan normal. Jika berada dalam kaeadaan tertentu maka bisa diganti dengan tayammum, misal: Jika Anda sedang sakit, atau sedang dalam pesawat terbang, atau Anda dalam perjalanan dimana air yang tersedia sangat terbatas, dsb.

Baca juga: Cara Menghilangkan Komedo dengan Alami

Hal-Hal Yang Dilarang Dalam Keadaan Junub

Orang yang mengalami hal-hal di atas (point 2) dimana dia dalam keadaan junub atau dalam keadaan berhadast besar dan belum mandi wajib maka dia tidak dibolehkan melakukan ibadah tertentu sampai ia mandi wajib. Orang yang sedang junub/berhadats besar dilarang melakukan hal-hal berikut ini:

1. Dilarang menyentuh dan membaca Al-Qur’an

Sebagian besar ulama sepakat bahwa menyentuh Al-qur’an saat berhadast besar adalah dilarang. Namun, bagaimana jika membaca tanpa menyentuh, alias hafalan? Hal ini menjadi bahan kajian di kalangan para ulama’.

Sheikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri mengatakan bahwa membaca Al-Qur’an dilarang saat berhadast besar kecuali dengan membaca isti’adzah dan yang semisalnya. Sebab Nabi SAW pernah bersabda:

Janganlah perempuan yang sedang haid atau orang yang sedang junub membaca sesuatu dari Al-Quran,” (HR Tirmidzi: 131).

Sheikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri mengatakan bahwa hadist tersebut berstatus dhaif bahkan mungkar (bisa dilihat pada Shahih wa Dha’if Sunan At-Tirmidzi, 1/131)

Syeikh Nashiruddin Al-Albani mengutip hadist yang diriwayatkan oleh Ali RA yang berbunyi:

Rasulullah pernah membacakan Al-Quran kepada kami setiap saat, selama beliau tidak junub,” (HR. An’Nasa’i: 168, Kitab At-Thaharah).

Sebagian ulama membolehkan membaca Al-Qur’an bagi wanita yang sedang haid namun tanpa memegangnya. Dan ulama melarang secara mutlak membaca dan memegang mushaf al-Qur’an jika seseorang dalam keadaan junub alias setelah melakukan hubungan badan dan belum mandi wajib.

2. Dilarang melakukan sholat yang wajib maupun sunnah

Hal ini berdasarkan ayat  Al-Qur’an surat An-Nisa Ayat 43:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu (mendirikan) shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, sampai kamu mandi …” (An-Nisa: 43).

3. Dilarang berdiam diri di masjid atau i’tikaf

Hal ini berdasarkan ayat  Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 43:

“…(jangan pula hampiri masjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi…” (An-Nisa: 43).

4. Dilarang berpuasa wajib maupun sunnah

Larangan ini pada umumnya terjadi bagi wanita haid dan nifas sebab rentang haid dan nifas cukup panjang. Nah,jika kedua keadaaan ini dialami wanita ketika puasa Ramadhan atau pun puasa sunnat maka ia tidak boleh berupuasa. Namun, untuk puasa wajib maka dia wajib mengqada/mengganti di hari lain sebanyak hari yang ditinggalkan dari bulan Ramadhan.

5. Dilarang thawaf di Baitullah

Para ulama telah sepakat dalam hal ini, sesuai dengan hadist nabi pada saat Aisyah RA akan melakukan umroh dan tiba-tiba haidh. Maka Rasulullah SAW bersabda:

Kemudian berhajilah, dan lakukan apa yang dilakukan oleh orang yang berhaji kecuali thawaf dan shalat.” (HR.Al-Bukhary dan Muslim, dari Jabir bin Abdillah)

6. Terlarang untuk Ditalak atau Dicerai

Bagi seorang suami yang ingin mentalak istrinya maka tidak boleh dilakukan pada saat hadast besar. Hendaknya ia menunggu hingga si istri suci kembali. Hal ini harus dipahami oleh pasangan suami istri.

Demikian pembahasan tentang cara mandi wajib yang benar menurut agama Islam serta hal-hal yang berhubungan dengan kondisi hadast besar. Semoga bermanfaat 🙂

Tags: bagaimana cara mandi wajib, cara yang benar mandi wajib, cara yg benar mandi wajib