Lengkap! Panduan Tata Cara Tayammum Sesuai Syariah

Posted on

Pengertian Tayammum

Mari kita mulai dengan membahas pengertian tayammum. Tayammum menurut bahasa memiliki arti Al Qosdu (القَصْدُ) atau maksud. Sedangkan menurut istilah agama pengertian tayammum adalah sebuah ibadah kepada Allah untuk mensucikan diri dengan mengusap wajah dan kedua tangan dengan menggunakan sho’id (secara umum berarti tanah/debu) yang bersih.

Dalil Tayammum

Dalil tentang Tayammum disebutkan di dalam Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’ (kesepatakan) ulama kaum muslimin. Adapun dalil Al Qur’an, firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ

Dan jika kamu dalam keadaan sakit atau sedang dalam perjalanan atau kamu baru kembali dari tempat buang air atau setelah melakukan hubungan badan dengan perempuan (istri), lalu kamu tidak mendapatkan air (untuk bersuci atau mandi), maka bertayammumlah dengan (tanah) permukaan bumi yang baik (bersih); sapulah wajahmu dan tanganmu dengan tanah itu”. (QS. Al Maidah [5] : 6).

Adapun dalil dari hadits, sabda Rasulullah SAW dari sahabat Hudzaifah bin Yaman RA,

« وَجُعِلَتْ تُرْبَتُهَا لَنَا طَهُورًا إِذَا لَمْ نَجِدِ الْمَاءَ »

“Dijadikan bagi kita (ummat Nabi Muhammad SAW ) permukaan bumi sebagai sesuatu yang bisa digunakan untuk besuci (tayammum) jika kita tidak menjumpai air”.

Dan adapaun dalil ijma’ maka para ulama telah sepakat tentang kebolehan melakukan tayammum jika tidak menemukan air, atau jika seseorang dalam keadaan tertentu yang tidak memungkinkannya untuk menggunakan air. Di bab selanjutnya akan kita bahas lebih detail.

Tanah/Debu yang Bisa Digunakan untuk Tayammum

Tanah atau debu yang bisa digunakan untuk bertayammum adalah seluruh permukaan bumi yang bersih (tidak terkena najis kotoran hewan atau manusia) baik itu berupa pasir, bebatuan, tanah yang lembab ataupun kering. Hal ini berdasarkan hadits Nabi SAW dari sahabat Hudzaifah bin Yaman RA di atas secara umum, dan hadits di bawah ini secara khusus,

جُعِلَتِ الأَرْضُ كُلُّهَا لِى وَلأُمَّتِى مَسْجِداً وَطَهُوراً

Dijadikan (permukaan, pent.) bumi seluruhnya bagiku (Nabi SAW) dan ummatku sebagai tempat untuk sujud dan sesuatu yang digunakan untuk bersuci”.

Keadaan yang  Membolehkan Seseorang Bersuci  dengan Tayammum

Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan hafidzahullah menjelaskan beberapa kondisi yang membolehkan seseorang bersuci dengan tayammum, di antaranya:

  1. Jika tidak menemukan air baik dalam perjalanan ataupun tidak.
  2. Terdapat air (dalam jumlah terbatas) sedangkan kebutuhan lain lebih mendesak memerlukan air seperti untuk memasak dan minum.
  3. Kondisi sakit yang tidak memungkian seseorang menggunakan air.
  4. Tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan air baik dikarenakan sakit dan tidak sanggup bergerak untuk mengambil air wudhu sementara tidak ada orang yang bisa membantu untuk berwudhu sedangkan waktu sholat hampir habis.
  5. Khawatir dingin yang berlebihan jika bersuci dengan air yang dikhawatirkan bisa menyebabkan sakit.
  6. Jika seorang teman menginap di rumah sahabatnya lalu dia mimpi basah, maka dia dibolehkan bertayammum untuk menghindari anggapan sahabatnya bahwa ia berselingkuh dengan istrinya.

Tata Cara Tayammum Sesuai Sunnah Nabi SAW

Tata cara tayammum Nabi SAW dijelaskan dalam hadits ‘Ammar bin Yasir RA,

بَعَثَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فِى حَاجَةٍ فَأَجْنَبْتُ ، فَلَمْ أَجِدِ الْمَاءَ ، فَتَمَرَّغْتُ فِى الصَّعِيدِ كَمَا تَمَرَّغُ الدَّابَّةُ ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « إِنَّمَا كَانَ يَكْفِيكَ أَنْ تَصْنَعَ هَكَذَا » . فَضَرَبَ بِكَفِّهِ ضَرْبَةً عَلَى الأَرْضِ ثُمَّ نَفَضَهَا ، ثُمَّ مَسَحَ بِهَا ظَهْرَ كَفِّهِ بِشِمَالِهِ ، أَوْ ظَهْرَ شِمَالِهِ بِكَفِّهِ ، ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ

Dia berkata, “Rasulullah SAW mengutusku untuk sebuah keperluan, lalu aku mengalami junub dan tidak menemukan air. Maka aku pun berguling-guling di atas tanah seperti layaknya hewan yang berguling-guling di atas tanah (untuk membersihakn badan). Lalu hal itu aku ceritakan kepada Nabi SAW. Lantas beliau bersabda, “Sesungguhnya cukuplah engkau melakukannya seperti ini”. Beliau memukulkan kedua telapak tangannya ke permukaan bumi sekali pukulan lalu beliau meniupnya. Setelah itu beliau mengusap punggung telapak tangan (kanan)nya dengan menggunakan tangan kirinya dan mengusap punggung telapak tangan (kiri)nya dengan menggunakan tangan kanannya, setelah itu beliau mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.”

Dan dalam salah satu lafadz riwayat Bukhori,

وَمَسَحَ وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ وَاحِدَةً

Dan beliau mengusap wajahnya dan kedua telapak tangannya dengan sekali usapan”.

Nah, berdasarkan hadits di atas dapat kita simpulkan bahwa tata cara tayammum Nabi SAW adalah sebagai berikut:

  1. Memukulkan kedua telapak tangan ke permukaan bumi dengan sekali pukulan lalu meniupnya.
  2. Kemudian sapukan punggung telapak tangan kanan dengan tangan kiri dan sebaliknya (artinya tayammum tidak sampai siku, namun hanya sampai pergelangan tangan saja).
  3. Kemudian menyapu wajah dengan dua telapak tangan (tanpa memukulkan tangan lagi ke permukaan tanah).
  4. Semua usapan tersebut, baik mengusap telapak tangan dan wajah hanya dilakukan sekali usapan saja (bukan tiga kali).
  5. Bagian tangan yang diusap adalah bagian telapak tangan sampai pergelangan tangan saja, dengan kata lain tidak sampai siku seperti halnya wudhu (seperti yang telah kita jelaskan di atas).
  6. Tayammum dapat menghilangkan hadats kecil semisal buang air kecil atau besar, demikian juga untuk hadats besar berupa janabah.
  7. Tidak wajibnya urut/tertib dalam tayammum antara tangan kiri atau kanan, boleh yang satu didahulukan dari yang lain, yang penting mendahulukan mengusap wajah.

Yang Membatalkan Tayammum

Yang bisa membatalkan tayammum adalah semua yang bisa membatalkan wudhu, yaitu:

  1. Buang angin.
  2. Buang air kecil.
  3. Baung air besar.
  4. Bersentuhan perempuan dengan laki-laki (yang telah akil baligh).
  5. Tertidur.
  6. Memegang kemaluan.
  7. Tambahan yang membatalkan tayammum adalah, bila seseorang telah menemukan air atau dia telah memiliki kemampuan untuk menggunakan air.

Catatan tambahan: shalat atau ibadah lain yang telah ia kerjakan sebelumnya sah dan tidak perlu mengulanginya.

Hikmah Disyari’atkannya Tayammum

Allah SWT berfirman dalam surat Al Maidah ayat 6,

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak menyucikan kamu dan menyempurnakan nikmatNya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Maidah: 6).

Abul Faroj Ibnul Jauziy rohimahullah menjelaskan ada empat penafsiran ahli tafsir mengenai nikmat yang Allah maksudkan dalam ayat ini, yaitu:

  • Pertama, nikmat berupa diampuninya dosa-dosa.
  • Kedua, nikmat berupa hidayah Allah SWT kepada iman, kesempurnaan agama. Ini merupakan pendapat Ibnu Zaid rohimahullah.
  • Ketiga, nikmat berupa adanya keringanan untuk tayammum, ini merupakan pendapat Sulaiman dan Maqotil.
  • Keempat, nikmat berupa penjelasan hukum syari’at, ini merupakan pendapat sebagian ahli tafsir.

Demikian penjelasan lengkap tentang tata cara tayamum sesuai syariat lengkap dengan dalil-dalilnya. Semoga bermanfaat. Happy bloging.

Artikel menarik lain: